Situs Resmi Jama'ah Al Khidmah 
  Minggu, 5 September 2010  
Home   Profil   Al Khidmah   Program   Interaksi   
a

Komunitas

Berita Terkini

Berita Al-Khidmah

Gus Rori Berpulang
22-08-2009 22:20

SURABAYA–Mursyid (guru) Tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah Jawa Timur sekaligus pemimpin Ponpes Al-Fithrah Assalafiyah, Kedinding Lor, Surabaya, KH Achmad Asrori El Ishaqi, meninggal dunia Selasa (18/8) sekitar pukul 01.30.

Kiai kharismatik yang biasa disapa Gus Rori itu meninggal di kediaman Kedinding Lor pada usia 54 tahun setelah menderita sakit cukup lama. Guru tarekat yang jamaahnya menembus puluhan ribu dari berbagai daerah itu meninggalkan empat putra dan putri.

Tak sampai setengah jam, kabar meninggalnya Gus Rori sudah sampai ke warga sekitar, jamaahnya, hingga pejabat pemerintah. Praktis saat itu juga terus berdatangan jamaah dan masyarakat sekitar ke lokasi pondok. Suasana semakin ramai seiring dengan terbitnya sang fajar dari ufuk timur.

Puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang berpakaian putih-putih berdatangan. Tidak hanya berjalan kaki, para jamaah yang ingin bertakziah menggunakan sepeda motor, mobil pribadi, bak terbuka, dan bis-bis juga memenuhi sepanjang jalan Kedinding Lor. Praktis, arah jalan akses menuju Jembatan Suramadu macet total. Pasukan dari Polsek Kenjeran, Polres Surabaya Timur dan anggota Satpol PP Pemkot Surabaya juga ikut berjaga-jaga mengamankan lokasi.

Di antara para pelayat, hadir juga pejabat-pejabat pemerintahan. Gubernur Jatim Soekarwo, mantan gubernur Jatim M Noer, beberapa anggota DPRD Jatim dan DPRD Surabaya, Wakil Walikota Surabaya Arif Afandi, Kapolwiltabes Surabaya Kombes Pol Ronny F Sompie, Kapolres Surabaya Timur AKBP Samudi serta pejabat-pejabat lainnya juga hadir. Kiai-kiai kenamaan se-Jatim juga tampak memberikan penghormatan terakhir. Jenazah KH Asrori disemayamkan di rumah duka, di dalam kompleks pondok pesantren.

Tepat pukul 9.30, jenazah Gus Rori dipindah ke masjid untuk disalati. Keranda jenazah ditutupi kain hijau ditempatkan di shaff paling depan. Saat itu, ribuan orang di dalam masjid mencoba merangsek mendekati jenazah. Tangis pun terpecahkan, tidak hanya jamaah wanita saja yang sesenggukan tak kuasa menahan tangis, jamaah laki-laki pun matanya merah dan wajahnya dipenuhi air mata yang berderai deras.

’’Kiai kita sudah dipanggil Allah. Kiai kita sudah dipanggil Allah,” ucap salah seorang jamaah berulang-ulang sambil mengusap air mata di wajahnya menggunakan sapu tangan birunya. “Mohon kepada jamaah, jangan mendekat dan tetap di tempat. Kasihan kiai kita semua. Sekarang waktunya untuk di sholati. Sekali lagi jangan mendekat. Tetap di lokasi, mari kita sama-sama men-sholati kiai dan mendoakan agar arwahnya diterima di sisi Allah SWT,” tukas seorang pengurus melalui pengeras suara menenangkan ribuan orang yang berusaha mendekati jenazah. “Keamanan, tolong kemanan segera ke masjid menenangkan jamaah,” tambahnya setelah tidak bisa menahan jamaah yang terus menerobos mendekat. Satgas dan keamanan pun berlarian menuju masjid dan segera menenangkan jamaah. Tak sampai 15 menit, kondisi sudah bisa dikendalikan dan jamaah kembali ke tempatnya.

Dipimpin KH Arifin yang juga kakak kandung Gus Rori, ribuan orang melakukan salat jenazah. Saat salat pun, tangisan tetap tak bisa terhenti. Para jamaah tetap tak kuasa menahan tangis. KH Asrori meninggal dunia sekitar pukul 1.30, Selasa (18/8) dinihari tadi. Ia meninggal dalam 54 tahun, meninggalkan 4 anak (2 laki-laki dan 2 perempuan).

Jenazah Gus Rori dimakamkan di dalam komplek pondok pesantren usai Sholat Dhuhur, siang tadi. Sudah selama dua tahun ini KH. Asrori menderita sakit, diantaranya ginjal, getah kuning dan darah rendah. Sempat sebelum meninggal, yakni pada senin tadi malam suasana tidak seperti biasa KH Asrori meminta dan memanggil seluruh keluarga besarnya berkumpul di rumahnya. ’’Tadi malam kita dikumpulkan. Beliau berpesan agar kita tidak berkelahi, bertengkar hingga terjadi perpecahan terutama sesama saudara,” tukas H Mansyur, salah satu anggota keluarga besarnya, kepada Surabaya Post.

’’Tapi kami nggak nyangka kalau itu pesan terakhir, sebab nggak ada tanda-tanda apa pun,” ujar Mansyur. Dia menambahkan, sudah selama dua tahun ini Gus Rori menderita sakit, di antaranya gangguan ginjal dan darah rendah. Praktis, selama itu pula Gus Rori tidak bisa menjalankan amanat semaksimal mungkin selak pemimpin umat. ’’Tapi yang membuat kami sangat antusias, meski sakit beliau tetap berusaha untuk terus mengayomi jamaahnya. Pokoknya nggak ada seorang kiai yang seperti dia,” ujar Mansyur.

 

NU Kehilangan

Wakil Katib Syuriah PW NU Jatim K.H. Abdurrahman Navis Lc didampingi Wakil Sekretaris PW NU Jatim HA Sujono mengatakan NU sangat kehilangan. ’’Kami kehilangan ulama dan guru yang aktif mengembangkan ajaran 'Ahlussunnah wal Jamaah' melalui tarekat," ujar Navis.

Menurut dia, kiai Asrori merupakan putra keenam (dari 13 saudara) dari mursyid tarekat KH Utsman yang merupakan generasi penerus ayahandanya untuk mengajar tarekat kepada masyarakat, sehingga jamaahnya mencapai puluhan ribu orang.

"Beliau memang sudah lama sakit, bahkan akhir-akhir ini beliau sudah tidak boleh keluar rumah, karena komplikasi penyakit yang dideritanya. Tapi beliau selalu hadir dalam kegiatan PW NU Jatim, meski bukan pengurus struktural, karena itu kami sangat kehilangan," ujar Navis. Navis menilai kiai Asrori merupakan ulama kharismatik yang ikhlas dan jujur dalam mengembangkan tarekat.

Karena itu, jamaahnya berasal dari berbagai kalangan mulai dari petani hingga pejabat, bahkan dia tidak membedakan penghormatan kepada jamaah yang bertamu. "Beliau sebenarnya masih muda, karena usianya tidak terpaut terlalu jauh dengan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi, namun beliau mampu menyatukan umat dari seluruh Jawa hingga Jakarta dan Asia Tenggara lewat tarekat. Kalau ceramah, beliau sangat menyejukkan," jelas Navis.

Almarhum mengasuh ratusan santri di Pesantren Al-Fithrah yang berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektare yang memiliki bangunan lantai dua untuk asrama putra, ruang belajar mengajar, penginapan tamu, rumah induk dan asrama putri, dan bangunan masjid yang cukup besar. "Rencananya, beliau dimakamkan sehabis Shalat Zuhur," katanya.

H Mansyur, salah satu anggota keluarga Gus Rori, menambahkan, sebenarnya saat ini atau seminggu menjelang bulan Puasa, Gus Rori diundang di Arab Saudi mengikuti Manaqib Syaikh Abdul Qodir Jailani. Namun, karena kondisi kesehatannya kurang baik, tahun ini tidak bisa hadir. Belakangan, Gus Rori malah dipanggil Allah SWT.

Mansyur menjelaskan, selepas peninggalan Gus Rori, keluarga dan pengurus akan kesulitan mencari sosok penggantinya. ’’Terlalu dini memang mengatakan siapa pengganti dan penerus Gus Rori sebagai pemimpin pondok pesantren. Tapi jelas akan sulit sekali mencari sosok pengganti beliau,” paparnya.

 

Riwayat Perjuangan

Dalam blog-blog jamaah tarekat, Kiai Asrori disebut sebagai penerus ayahandanya, KH Utsman, sebagai mursyid Thariqah Qadiriyah Wan Naqsabandiyah Al Utsmaniyah. Almarhum KH Utsman adalah salah satu murid kesayangan KH Romli Tamim (ayah KH Musta’in) Rejoso, Jombang, Jawa Timur.

Kiai Utsman dibaiat sebagai mursyid bersama Kiai Makki Karangkates Kediri dan Kiai Bahri asal Mojokerto. Kemudian sepeninggal Kiai Musta’in (sekitar tahun 1977), Kiai Utsman mengadakan kegiatan sendiri di kediamannya Sawah Pulo Surabaya. Maka, jadilah Sawah Pulo sebagai sentra aktivitas tarekat di kota metropolis ini di samping Rejoso (Kediri) dan Cukir (Jombang).

Sepeninggal Kiai Utsman, tongkat estafet ke-mursyid-an diberikan kepada putranya, Kiai Minan, sebelum akhirnya ke Kiai Asrori. Pengalihan tugas ini berdasarkan wasiat Kiai Utsman menjelang wafatnya. Di tangan Kiai Asrori inilah jamaah semakin membludak. Sebelum memegang amanah itu, Kiai Asrori memilih membuka lahan baru, yakni di kawasan Kedinding Lor yang masih berupa tambak pada waktu itu.

Dakwahnya dimulai dengan membangun masjid, secara perlahan dari uang yang berhasil dikumpulkan, sedikit demi sedikit tanah milik warga di sekitarnya ia beli, sehingga kini luasnya mencapai 2,5 hektar lebih. Tanda-tanda menjadi panutan sudah nampak sejak masa mudanya. Masa mudanya dihabiskan untuk menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Kala itu Kiai Asrori muda yang badannya kurus karena banyak tirakat dan berambut panjang memiliki geng bernama “Orong-orong”, bermakna binatang yang keluarnya malam hari. Jamaahnya rata-rata anak jalanan alias berandalan yang kemudian diajak mendekatkan diri kepada Allah lewat ibadah pada malam hari. Meski masih muda, Kiai Asrori adalah tokoh yang kharismatik dan disegani berbagai pihak, termasuk para pejabat dari kalangan sipil maupun militer. fqi, b2

Surabaya Post